Merahkan Rabumu!

Ayo Merahkan Rabumu!

Ayo donorkan darahmu!

Ayo Donor Darah 8 November 2017 dan Donasi Buku 3-22 November 2017

Selamat Hari Raya Idul Adha

Himagrotek mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Adha!

Ayo ikutan agrocomunity!

Bisa lebih tau tentang peminatan loh..

Selamat Hari Batik Nasional!

Himagrotek mengucapkan selamat hari Batik Nasional, Bangga menggunakan Batik!

Selamat Tahun Baru Hijriah!

Himagrotek mengucapkan selamat Tahun Baru Hijriah!

Selamat Hari Tani 2017!

Terima Kasih Atas Pengorbananmu Selama ini!

Thursday, March 8, 2018

GETAH 8


Serangkaian kegiatan yang telah dilakukan oleh himagrotek, Pada tanggal 29 November hingga 14 Desember 2017, telah dilaksanakannya rangkaian Gebyar Ulang Tahun Himagrotek (GETAH) 2017 yang ke-8. Dengan bertemakan “Fireworks”, rangkaian GETAH 8 terdiri dari Social Project, pertandingan futsal, pertandingan sepak bola, pertandingan basket, lomba tarik tambang, lomba fotografi, lomba akustik, lomba poster, lomba cerdas cermat (LCC), Putra-Putri Himagrotek, dan Closing Party. Rangkaian GETAH 8 diikuti oleh seluruh mahasiswa Agroteknologi Universitas Jenderal Soedirman dengan senang dan meriah. Setelah serangkaian lomba dilaksanakan, sampailah di rangkaian acara terakhir yaitu Closing Pary GETAH 8 yang bertempat di Gedung Soemardjito. Acara tersebut terdiri dari Grand Final Putra-Putri Himagrotek,
pengumuman pemenang lomba-lomba dan hiburan dari pemenang lomba akustik kelas G14, AIB band dan DJ Dyff. Pada Grand Final Putra-Putri Himagrotek dimenangkan oleh Adistya Pramesthi (Agrtoeknologi 2016) sebagai Putri Himagrotek dan Ismail (Agroteknologi 2017) sebagai Putra Himagrotek. Dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba. Pemenang lomba futsal putra adalah kelas A15 dengan skor 2-0, sedangkan pemenang lomba futsal putri adalah angkatan 2014 dengan skor 7-0. Pemenang lomba bola basket putra adalah angkatan 2015 dengan skor 26-13, sedangkan pemenang lomba bola basket putri adalah angkatan 2017 dengan skor 28-10. Pemenang pertandingan sepak bola adalah angkatan 2014 dengan skor 6-5. Pada perlombaan LCC, juara 1 dimenangkan oleh kelas F15 dan juara 2 dimenangkan oleh kelas D15. Pada perlombaan tarik tambang dimenangkan oleh kelas B16. Semoga untuk kedepannya GETAH semakin meriah dan semakin banyak mahasiswa berpartisipasi. Sampai bertemu di GETAH 9!

Wednesday, December 20, 2017

INFO PERTANIAN

Serangan tungau merah pada titik tumbuh dan tunas pada ubi kayu dapat menyebabkan pembentukan daun berkurang, ruas batang memendek, penurunan produktivitas tanaman, serta mempengaruhi kuantitas dan kualitas bahan tanam.Serangan tungau merah yang parah dapat menyebabkan kematian tanaman ubi kayu, tergantung lama serangan dan umur tanaman. Serangan hama tungau merah dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan semua daun luruh dan kehilangan hasil/

Pengendalian serangan hama tungau merah bisa dilakukan secara biologi, kultur teknis, dan kimiawi. Pengendalian secara biologi dilakukan dengan menggunakan musuh alami (predator) yang ada di alam. Predator tungau yang paling penting adalah: (1) Oligota minuta untuk Mononychellus tanajoa, (2) Stethorus tridens untuk T. urticae dan T. cinnabarinus, dan (3) Phytoseiidae.

Pengendalian dengan cara kultur teknis dengan memilih bahan tanam dan pengairan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi tungau merah. Tanaman ubi kayu yang terserang tungau merah diairi (digenangi) selama 30 menit, disemprot dengan air menggunakan tekanan yang kuat dapat mengendalikan populasi tungau merah. Irigasi yang memadai merupakan cara yang penting untuk mengendalikan populasi tungau, karena tanaman yang tercekam kekeringan mudah terserang tungau. Tanaman terserang dicabut dan dibakar untuk menghindari penyebaran tungau yang lebih luas.
Pengendalian tungau merah dengan cara kimia sering menyebabkan resistansi silang yang luas di dalam dan di antara kelas pestisida, sehingga menyebabkan resistensi terhadap pestisida yang baru dalam kurun waktu 2‒4 tahun. Banyak aspek biologi tungau merah yang menyebabkan terjadinya perubahan resistensi yang cepat terhadap pestisida, diantaranya perkembangan yang pesat, daya tetas tinggi, dan penentuan seks haplodiploid.
Penggunaan insektisida dalam spektrum luas sering menyebabkan predator tungau mati, dan berakibat pada munculnya wabah tungau, sehingga penggunaan pestisida perlu dihindari. Semprotan air, minyak, insektisida, atau sabun dapat digunakan untuk pengendalian tungau merah. Sebelum melakukan penyemprotan, pemantauan tingkat populasi tungau harus dilakukan.

Aplikasi insektisida untuk pengendalian tungau merah harus memperhatikan cara penyemprotan. Cakupan yang luas dari penyemprotan sangat penting ketika melakukan aplikasi miticides, bagian bawah daun harus menjadi target penyemprotan supaya terjadi kontak antara insektisida yang diaplikasikan dengan tungau sebanyak mungkin, karena sisi bawah daun merupakan tempat berkumpulnya tungau merah. Aplikasi insektisida dilakukan pada interval 5‒10 hari. Telur tungau yang belum menetas tidak terpengaruh oleh sebagian miticides. Hal yang sama kemungkinan juga terjadi pada larva dan nimfa yang mengalami pergantian kulit (molting). Selama molting, tungau tetap tidak aktif di bawah bekas kulit yang berfungsi sebagai penghalang terhadap insektisida. Pada fase ini tungau juga tidak makan, yang menyebabkan insektisida yang bersifat sistemik tidak berpengaruh. Apabila aplikasi hanya dilakukan sekali, maka tungau dapat bertahan hidup.

Pengendalian hama tungau merah dapat dilakukan dengan aplikasi akarisida seperti Challenger, Ortus, Vertimec dan Delmite, karena efek samping terhadap predator lebih rendah atau bahkan dapat diabaikan.

Pengendalian tungau merah pada intensitas serangan ringan hingga sedang dengan menggunakan dikofol 2 ml/l mampu menekan serangan sebesar 90,83% hingga 98,62%, sedangkan pengendalian pada intensitas serangan sedang hingga tinggi hanya mampu menekan tingkat serangan sebesar 18,40% hingga 62,48%. Pengendalian terhadap tungau merah berdampak pada peningkatan rata-rata hasil umbi dari 22,56 t/ha menjadi 26,96 t/ha.(TS/FZP)


Wednesday, November 29, 2017

INFO PERTANIAN

Cara Petani Madura Olah Singkong Jadi Kerupuk


Dalam "katalog" pertanian Indonesia, menanam singkong bukan prioritas utama petani. Salah satu sebabnya, nilai keekonomian singkong kalah dibanding komoditas pertanian lain, seperti padi, jagung, kacang tanah, dan cabai. Singkong hanya ditanam di lahan yang dianggap tidak terlalu produktif.

Namun, petani di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Punya cara "memuliakan" singkong sehingga harganya lebih ekonomis bahkan tak malu untuk dijadikan buah tangan. Mereka olah singkong jadi kerupuk.

Ide kreatif itu barangkali muncul karena kondisi alam di Desa Jaddih. Lahan di sana, baik sawah dan tegalan, merupakan tadah hujan. Kondisi itu membuat petani Jaddih hanya bertani sekali dalam setahun, yakni saat musim hujan. Saat kemarau, aktivitas pertanian berhenti total.

Karena hanya bercocok tanam sekali dalam setahun, komoditas utama pertanian di Jaddih tak beragam, hanya padi dan kacang tanah. Padi ditanam di sawah, kacang ditanam di lahan tegalan. Khusus di lahan tegalan, petani menerapkan sistem bercocok tanam "tumpang sari". Maksdunya, dalam satu lahan ada dua jenis yang ditanam, yaitu kacang dan singkong. Singkong ditanam di pinggiran pematang.

Sistem tumpang sari rupanya jadi penyelamat. Saat kemarau, dapur tetap ngebul. Selain merawat ternak, petani mengisi waktu dengan jadi perajin kerupuk singkong.

"Hasilnya cukup buat menyambung hidup dan membiayai anak di pesantren," kata Mardiyah, warga Jaddih yang menekuni olahan kerupuk singkong.

Saat saya temui, Mardiyah sedang menjemur kerupuk di teras langgar. Dia memakai caping untuk menghalau terik matahari. Ada dua jenis kerupuk yang ia jemur, satu polosan dan satu lagi diberi pewarna makanan. Ia memberi kombinasi warna merah, kuning, dan hijau agar tampilan lebih menarik pembeli.

"Harganya sama, Rp 11 ribu per kilogram," kata dia.

Mardiyah menjelaskan, kerupuk singkongnya laris manis dan dia tak perlu menjualnya ke pengepul di pasar. Pembeli datang langsung ke rumahnya. Biasanya untuk dijadikan camilan atau oleh-oleh.

"Kalau lagi sepi pembeli, terpaksa dijual ke pengepul," ujar dia.

Tuesday, November 7, 2017

Lepas Sambut Sarjana Pertanian

Pasca Yudisium dan Pasca Wisuda


Hari selasa tanggal 12 September 2017 Universitas Jenderal Soedirman melaksanakan wisuda ke-126 Periode bulan Sebtember 2017 dengan melepas mahasiswa dan mahasiswi sebanyak 1.829 lulusan dengan 160 lulusan dari program studi Agroteknologi. Bertempat di Graha Widyatama UNSOED acara wisuda tersebut digelar.

Himagrotek melalui Departemen Pengkaderannya mengadakan perayaan wisuda yang menjadi salah satu program kerja wajib dari Departemen Pengkaderan pada saat periode wisuda telah tiba. Program kerjanya berupa pemberian penghargaan kepada para lulusan mahasiswa dan mahasiswi program studi agroteknologi yang telah melalui rangkaian acara wisuda.

 Foto pengurus himagrotek periode 2017/2018 bareng wisudawati
yang lulus pada periode wisuda bulan September 2017
Perayaan wisuda yang dilakukan oleh Departemen Pengkaderan sendiri dilaksanakan dengan dihadiri oleh pengurus Himagrotek periode 2017/2018 bertujuan untuk memberikan apresiasi dan ucapan selamat dan kenang-kenangan kepada mahasiswa dan mahasiswi program studi Agroteknologi yang telah menjadi alumni. Doa kita kepada alumni semoga para alumni dapat memberikan ilmu yang telah didapatkan ke masyarakat serta berguna bagi bangsa dan negara.

 Salah satu foto wisudawan yang lulus pada periode wisuda bulan September 2017