Merahkan Rabumu!

Ayo Merahkan Rabumu!

Ayo donorkan darahmu!

Ayo Donor Darah 8 November 2017 dan Donasi Buku 3-22 November 2017

Selamat Hari Raya Idul Adha

Himagrotek mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Adha!

Ayo ikutan agrocomunity!

Bisa lebih tau tentang peminatan loh..

Selamat Hari Batik Nasional!

Himagrotek mengucapkan selamat hari Batik Nasional, Bangga menggunakan Batik!

Selamat Tahun Baru Hijriah!

Himagrotek mengucapkan selamat Tahun Baru Hijriah!

Selamat Hari Tani 2017!

Terima Kasih Atas Pengorbananmu Selama ini!

Showing posts with label ARTIKEL ILMIAH. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL ILMIAH. Show all posts

Tuesday, October 18, 2016

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Hari pangan sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 16 Oktober. Sejarah hari pangan sedunia sendiri tidaklah lepas dari sejarah terbentuknya organisasi PBB yang menangani Pangan Sedunia, FAO. Namun hari pangan sedunia tidak sertamerta diperingati sejak FAO didirikan 16 Oktober 1945. Akan tetapi peringatan hari pangan sedunia bermula dari konferensi FAO ke 20, bulan Nopember 1976 di Roma yang memutuskan untuk dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day. Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia, menetapkan bahwa mulai tahun 1981 segenap negara anggota FAO setiap tanggal 16 Oktober memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS). Sejak saat itu hari pangan sedunia diperingati dengan mengusung tema yang berbeda di setiap tahunnya. Tulisan ini bukan untuk menguak sejarah kelam ataupun mengutuk kemunduran pertanian, akan tetapi kesempatan ini penulis ingin mengangkat sebuah narasi pentingnya peran petani sebagai pejuang pangan dan Gizi bangsaku. 

Hari Pangan Sedunia Di Indonesia

Hari pangan sedunia memanglah sebuah momentum besar yang diperingati untuk menekankan betapa pentingnya pangan bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. Bukan hanya ketersediaan bahan pangan yang diperjuangkan akan tetapi, kunci dari kesehatan dan keamanan bahan pangan berada di tangan petani. Betapa tidak, residu bahan kimia akibat sistem budidaya sangatlah rentan jika dilakukan secara berlebihan.
Di Indonesia sendiri, Produksi Pangan dilakukan secara budidaya yang belum begitu tersentuh dengan paradigma tekhnologi industri yang sangat menekankan produksi optimal dengan bantuan pupuk kimia yang sangat maksimal. Residu bahan kimia dalam bahan pangan sangatlah mengancam kehidupan umat manusia. Menurut laporan dari WHO dan UNEP, di seluruh dunia terdapat lebih dari 26 juta manusia keracunan pestisida dengan sekitar 220 ribu kematian per tahun. Di Amerika Serikat, terdapat 67 ribu manusia per tahun keracunan pestisida. Sedangkan di Cina, terdapat 0,5 juta manusia keracunan pestisida dengan 0,1 juta kematian per tahun (Zhang, et al, 2011).
Untuk itu persoalan keamanan Pangan dan gizi yang terkandung dalam bahan pangan tak dapat dipisahkan. Sebab ketersediaan bahan pangan atau jumlah produksi pangan yang setara dengan kebutuhan pangan saja tidak cukup. Perlu ada penanganan khusus mengenai kesehatan dan kemampuan bahan pangan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Menurut laporan UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund) jumlah anak balita penderita gizi buruk mengalami lonjakan dari 1,8 juta ( 2005), menjadi 2,3 juta (2006) diluar 2,3 juta penderita gizi buruk masih ada 3 juta lebih mengalami gizi kurang yaitu sekitar 28% dari total balita di seluruh Indonesia. Dari jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang sekitar 10% berakhir dengan kematian. Dari angka kematian balita yang 37 per 1000 ini, separuhnya adalah kurang gizi (Depkes, 2006).
Status gizi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Ditingkat rumah tangga, keadaan gizi dipengaruhi oleh kemampuan keluarga menyediakan pangan di dalam jumlah dan jenis yang cukup serta pola asuh yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan, perilaku dan keadaan kesehatan rumah tangga. Salah satu penyebab timbulnya kurang gizi pada anak balita adalah akibat pola asuh anak yang kurang memadai (Soekirman, 2000).

Petani pejuang pangan dan gizi bangsaku

Dari keterangan dan data tersebut di atas, sangatlah jelas korelasi antara peran petani dalam produksi bahan pangan dan status gizi masyarakat. Pada hari pangan sedunia tahun 2014 lalu Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui FAO telah menegaskan peran petani dalam pemenuhan gizi masyarakat, sehingga tema utama pada peringatan hari pangan sedunia tersebut ialah “Family Farming: Feeding The world, Caring For The Earth”.
Tema Hari Pangan sedunia tahun 2014 tersebut bermakna bahwa pertanian keluarga memberi makan dunia dan kepedulian pada bumi. Hal tersebut menjadi tanda bahwa petani keluarga harus memainkan peran yang semakin penting dalam perang global melawan kelaparan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam memenuhi kebutuhan kalori kita berasal dari pangan yang kita konsumsi. Dan bahan pangan tersebut berasal dari kerja keras dan jerih payah tangan petani di seluruh pelosok dunia, khususnya Indonesia bangsa kita yang dengan bangga menggelari dirinya sebagai Negara agraris.
Apresiasi pada petani dan keluarganya hendaklah jangan pada hari pangan sedunia saja. Mereka menjalankan sebagian besar aktivitas produksi bahan pangan di dunia. Mereka juga melestarikan sumber daya alam dan keragaman hayati. Mereka adalah landasan pertanian dan sistem pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Mereka adalah pejuang pangan dan gizi bangsaku.
Bapak pendiri bangsa dan proklamator kita, Ir. Soekarno dalam pidatonya saat peletakan batu pertama kampus IPB 53 Tahun silam mengatakan “Pangan adalah persoalan hidup mati sebuah bangsa”. Menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan pangan yang sehat sangat bergantung pada petani maka saat ini bolehlah kita bersama-sama mengapresiasi kinerja petani dengan mengumandangkan kalimat “Petani hidup dan mati bangsaku“.
Untuk menyelamatkan generasi mendatang, sangatlah penting mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan bahwa setidaknya 500.000 keluarga petani meninggalkan profesi di sektor pertanian. Sebagian menjual lahannya kepada pengembang property dengan keyakinan bahwa keuntungan yang diperoleh lebih besar dibanding bertahan sebagai petani. Hal tersebut berdampak pada tenaga kerja sektor pertanian dan secara tidak langsung dapat menurunkan jumlah produksi pangan nasional.
Dalam momentum hari pangan sedunia tahun 2016 ini, marilah bersama-sama melakukan tindakan nyata untuk mendorong kesejahteraan keluarga petani. Kesejahteraan petani sangatlah penting, sebab Petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku, bangsamu, bangsa kita tercinta, Indonesia. Dengan sejahteranya petani, semangat petani dalam menjalankan aktivitas pertanian juga meningkat, sehingga keamanan dan ketercukupan gizi bangsa kita tetap terjaga kebersinambungannya.

Selengkapnya:

Sunday, October 2, 2016

D x P Mekarsari, Varietas kelapa sawit unggul kombinasi umur produktif dan produktivitas tinggi

 
Pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui progam ekstensifikasi di seluruh wilayah Indonesia terus dilakukan secara intens dengan luasan tanam sekitar 133 ribu pada tahun 1970 dan mencapai lebih dari 9.1 juta ha sampai akhir tahun 2013 (Ditjenbun 2013). Dengan semakin  berkurangnya ketersediaan lahan dan upaya untuk mengurangi konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit serta tetap mempertahankan posisi sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, peningkatan produksi kelapa sawit di masa mendatang difokuskan dengan meningkatkan produktivitas per satuan hektar.
Peningkatan produktivitas per satuan hektar dapat ditingkatkan melalui dua pendekatan yaitu peningkatan potensi genetik individu tanaman melalui pemanfaatan bahan tanam berprodukvitas tinggi dan peningkatan populasi tanaman per satuan hektar melalui pemanfaatan bahan tanam yang memiliki struktur tajuk kompak. Pilihan varietas unggul yang memiliki kombinasi kedua aspek tersebut masih terbatas.
PT. Sasaran Ehsan Mekarsari sebagai salah satu produsen benih kelapa sawit di Indonesia memiliki sejumlah famili dura sebagai tetua betina memiliki pedigree SOC no. 12925, 12926, 127446, 13109, dan 13112 yang berasal dari Socfin Research Station (SRS) pada tahun 1982 atau siklus RRS pertama dengan tekanan seleksi ke arah produktivitas tinggi, kemudian siklus RRS kedua dilakukan di PT. Sasaran Ehsan Utama dengan tekanan seleksi ke arah produktivitas tinggi, kualitas minyak dan laju penambahan tinggi yang lambat. Benih-benih dari hasil seleksi RRS siklus kedua ditanam di Kebun Percobaan Mekarsari Research Station (MRS).

Setiap generasi bahan tanaman Sasaran Ehsan Utama diseleksi dengan sangat ketat. Berikut standar minimum seleksi famili-famili dura yang dilakukan :
                                          Mekarsari’s Standard
Minimum Dura Yield                   250 kg
Oil to Bunch                                  18 %           
Oil Yield /Palm                           45.0 kg
Minimum Progeny Yield              250 kg
Oil to Bunch                                    27%
Progeny Oil Yield/Palm             67.5  kg
Minimum Kernel Yield                      5%
Oil Yield/Ha (136 palms)          9.18 tons



Varietas D x P Mekarsrai memiliki keunggulan sebagai berikut :
  1. Genjah, panen dimulai pada umur 24 bulan (early maturity)
  2. Laju pertambahan tinggi sangat lambat (25-35 cm/tahun), sehingga umur produktif tanaman panjang. Tinggi tanaman berumur 20 tahun hanya sekitar 5 – 7 meter
  3. Produktifitas tinggi (13 ton TBS/ha) di awal-awal panen (high yield)
  4. Rata-rata produksi tandan buah segar (setelah 7 tahun) 30-35 ton/ha/tahun
  5. Rata-rata ekstraksi minyak kelap sawit (CPO) lebih dari 27%
  6. Memiliki kualitas minyak yang tinggi dengan indikator asam lemak tidak jenuh (Iodine Value) lebih dari 54%



Selengkapnya:

Saturday, October 1, 2016

Balitbangtan keluarkan varietas kedelai tahan pecah polong

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) merilis varietas baru kedelai tahan pecah polong. Varietas kedelai ini merupakan persilangan antara kedelai anjasmoro dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Sehingga didapatkan kedelai tahan pecah polong yang berdaya hasil tinggi.
Varietas baru ini menjawab permasalahan produktivitas kedelai di Indonesia yang terbilang rendah. Salah satu penyebabnya adalah buruknya hasil panen akibat pecah polong. Kehilangan hasil panen akibat pecah polong sangat tinggi, mencapai 34% sampai 100%. Hal ini tentu sangat merugikan petani dan menjadi biangkeladi rendahnya angka produktivitas kedelai nasional.
Pecah polong pada kedelai biasanya terjadi pada tanaman yang dibudidayakan di musim kemarau. Ada banyak faktor yang menyebabkan pecah polong, yakni faktor lingkungan, penanganan panen dan varietas tanaman. Faktor lingkungan diakibatkan oleh kondisi kelembaban rendah, suhu tinggi dan adanya perubahan suhu yang ekstrem saat kedelai dipanen. Sedangkan faktor penanganan panen lebih banyak disebabkan karena tertundanya waktu panen atau kedelai kelewat matang saat dipanen. Hal ini biasanya terjadi karena kekurangan tenaga kerja saat panen.
Selain kedua faktor tersebut, faktor genetik terkait varietas tanaman memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap pecah polong. Banyak varietas kedelai tidak tahan terhadap iklim tropis sehingga hasil panen menjadi retak-retak atau pecah polong. Oleh karena itu Balitbangtan terus berupaya memperbaiki varietas kedelai tahan pecah polong.

Produksi nasional

Saat ini pemerintah sedang gencar meningkatkan produksi kedelai nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Pada tahun 2015 produksi kedelai nasional mencapai 1,27 juta ton. Tahun ini pemerintah menargetkan 2,63 juta ton. Strategi peningkatan produksi dilakukan dengan memperluas areal tanam dan meningkatkan produktivitas. Untuk pulau Jawa perluasan areal tanam sulit dilakukan. Padahal Jawa merupakan penghasil kedelai terbesar. Satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan produktivitas.
Saat ini produktivitas kedelai nasional masih rendah sekitar 1,56 ton per hektar. Jawa Tengah lebih tinggi dari angka nasional yakni 1,87 ton per hektar. Angka ini masih bisa ditingkatkan karena di Kabupaten Grobogan angka produktivitas bisa mencapai 2,3 ton per hektar.
Sementara itu di tingkat penelitian produktivitas bisa mencapai 3,2 ton per hektar. Bahkan pihak Balitbangtan berani menargetkan produktivitas hingga 3,7 ton per hektar pada tingkat uji coba. Dengan adanya langkah-langkah pengembangan baru pemerintah optimis pada tahun 2017 produksi kedelai nasional akan mencapai 3 juta ton.

Selengkapnya :

Thursday, March 3, 2016

Usahatani Bawang Merah dan Cabai Merah dengan Inovasi Pertanian

Perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan merupakan persoalan yang terkait erat satu sama lainnya. Perubahan iklim dan keanekaragaman hayati adalah dua hal yang jika tidak ditangani secara terintegrasi akan berpengaruh terhadap usahatani dan keamanan pangan.
Solusi untuk menjawab tiga isu tersebut yakni dengan penerapan inovasi teknologi. Menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu, petani Indonesia harus menggunakan teknologi tanam, dengan menggunakan pupuk berimbang, pemilihan varietas yang adaptif, dan kalender tanam.
Usahatani sayuran khususnya bawang merah dan cabai merah memiliki resiko tinggi dan kendala yang dihadapi dalam budidaya, seperti serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) yang dapat menggagalkan panen. Produktivitas tanaman yang rendah dan serangan hama/penyakit umumnya makin meningkat pada pertanaman di luar musim atau waktu off-season, yaitu mulai bulan Desember sampai bulan April dalam kondisi iklim normal.

Keberhasilan usahatani bawang merah dan cabai merah di musim hujan, ditentukan oleh kemampuan budidaya khususnya dalam mengatasi masalah hama/penyakit tanaman, pemilihan varietas, pengolahan lahan yang tepat dan pemupukan tanaman yang efisien.
Pengenalan sifat bawang merah dan cabai dari suatu varietas, khususnya kepekaan terhadap hama dan/atau penyakit, memudahkan dalam pemilihan varietas yang akan ditanam. Pemilihan varietas tamanan bawang merah dan cabai merah adaptif menjadi faktor keberhasilan usahatani sayuran.
Varietas bawang merah Sembrani dengan umur panen normal di dataran rendah 54-56 hari dan di dataran tinggi 68-75 hari, potensi hasil 9,0-24,0 t/ha dengan keunggulan tahan simpan sampai 4 bulan. Selain itu varietas bawang merah Trisula dengan umur panen normal 55 hari, potensi hasil 6,50-23,21 t/ha dengan keunggulan tahan simpan samapi 5 bulan.
Untuk pemilihan varietas cabai merah yaitu cabai merah Kencana dengan umur panen 95-98 hari setelah tanam, potensi hasil 18-19 t/ha, dan beradaptasi baik pada dataran rendah sampai dengan tinggi.
Informasi lebih lanjut :

Perangkap Likat Kuning untuk PHT

Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian yang dilakukan untuk menekan penggunaan pestisida sintetik di pertanaman. Pengendalian hama terpadu (PHT) dilakukan secara fisik, mekanik, pergiliran dan rotasi tanaman lebih bersifat ramah lingkungan.
Pemantauan hama di pertanaman penting dilakukan untuk menentukan upaya preventif pengendalian hama, antara lain dengan menggunakan perangkap likat kuning (yellow sticky trap).
Serangga umumnya tertarik dengan cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu, dimana warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti warna kuning cerah. Inilah yang menjadi dasar dibuatnya perangkap dengan menggunakan plastik/kertas berwarna kuning yang dilapisi dengan perekat agar hama tidak bisa terbang dan mati.

Pemasangan perangkap ini dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang ada di lahan. Aplikasi perangkap ini sebanyak 40 lembar per hektar, dengan ketinggian sesuai tanaman. Misalnya pada tanaman kedelai, ketinggian lokasi perangkap sekitar 100 cm agar perangkap dapat bekerja secara optimal.
Ketika hama terperangkap telah memenuhi sebagian besar permukaan perangkap atau 15 hari setelah pemasangan, maka perlu dilakukan penggantian dengan perangkap yang baru.
Perangkap likat kuning mampu mengendalikan beberapa hama yang sering muncul di pertanaman, seperti lalat buah, wereng, aphids, thrips, kutu, ngengat, dan kepik. Perangkap likat kuning ini dapat dijadikan solusi untuk petani dalam pengendalian hama di lapangan.
Pemanfaatan perangkap ini dapat menjadi indikator populasi hama di area pertanaman, sehingga saat ditemukan hama tertentu yang populasinya telah melebihi ambang batas maka dapat segera dilakukan pengendalian hama tersebut secara khusus. Dengan perangkap likat kuning, produktivitas tanaman meningkat dan biaya pestisida sintetik dapat ditekan.

Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Lingkungan Pertanian

Potensi Pengembangan Minyak Atsiri

Industri obat-obatan, parfum, kosmetika, pengolahan makanan/minuman, aromaterapi, dan lain-lain,  menyebabkan kebutuhan  akan minyak atsiri semakin besar, baik dari segi volume maupun jenisnya. Minyak atsiri mempunyai sifat anti bakteri, yang dapat digunakan dalam campuran pasta gigi, obat pencuci mulut dan dalam pembuatan obat tonik.
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eterik, minyak esensial , minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok alami. Di dalam perdagangan, hasil sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.

Ragam minyak atsiri di pasaran internasional dan masih sedikitnya jenis yang diproduksi, memberikan gambaran bahwa peluang pasar ekspor dan pasar dalam negeri minyak atsiri masih terbuka lebar. Apalagi nilai impor minyak atsiri Indonesia masih besar. Hingga saat ini bahan-bahan minyak atsiri yang ada di pasaran masih diperdagangkan sebagai bahan mentah. Melalui teknologi sederhana seperti penyulingan bahan-bahan tersebut dapat dibuat menjadi minyak atsiri yang harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan diperdagangkan dalam bentuk bahan.
Minyak atsiri yang belum banyak diproduksi tetapi penggunaannya cukup luas dalam industri, seperti kayu manis, kapolaga, jahe, daun jeruk purut. Hal ini sangat disayangkan padahal bahan bakunya cukup tersedia di Indonesia.
informasi lebih lanjut :

Wednesday, March 2, 2016

Mengendalikan Lalat Buah pada Jeruk

Lalat buah (Bactrocera spp), merupakan salah satu hama penting pada jeruk. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan. Hal ini sangat merugikan karena dapat menghambat peningkatan produksi dan mutu buah. Buah yang terserang mudah dikenali dengan adannyaperubahan warna kulit di sekitar tanda sengatan dan terjadinya pembusukan buah dengan cepat. Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya/. Hal tersebut disebabkan oleh larva lalat buah yag hidup di dalam buah yang hampir masak sehingga menyebabkan buah menjadi busuk. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil yang biasanya meloncat apabila tersentuh.

Pada jeruk, lalat buah paling banyak menyerang pamelo (citrus grandis) dan sedikit yang menyerang jeruk manis (C.sineis) serta jeruk jenis lain. Pada pamelo serangan lalat buah menyebabkan kerugian 30-60% kadang-kadang bersamaan dengan serangan penggerek buah (Citripestis segittiferella), sehingga agak sulit membedakan kedua hama tersebut. Jenis lalat buah yang menyerang jeruk di Indonesia dilaporkan ada 4 jenis yairu B. Carambolae, B. Papaye, B. Dorsalis dan B.Cucurbitae.
Lalat buah peka terhadap lingkungan yang kurang baik. Pada kondisi lingkungan yang kurang baik. Pada kondisi lingkungan yang optimal mamu menghasilkan populasi tinggi. Suhu optimal mampu menghasilkan populasi tinggi. Suhu optimal untuk perkembangan lalat buah + 26oC dengan kelembaban realatif 70%. Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan pupa. Kelembaban tanah yang paling baik untuk stadia pupa antara 0-9%. Cahaya mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan lalat buah, dimana lalat buah betina akan meletakkan telur lebih cepat pada kondisi yang terang, sebaliknya pupanya tidak akan menjadi dewasa apabila terkensa sinar.
PENGENDALIAN
Berdasarkan hasil monitoring pengandalian lalat buah dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknologi yang dapat diaplikasikan yaitu :
  • Pengandalian fisik dengan pembungkusan buah mulai umur 1.5 bulan untuk mencegah oviposisi(peletakan telur)pada buah. Pembungkusan dapat dilakukan dengan menggunakan kertas semen atau kantong plastik.
  • Sanitasi kebun, memusnahkan buah jeruk yang terserang baik yang masih dipohon maupun yang sudah gugur dengan cara membenamkan ke dalam tanah atau membakarnya, dengan tujuan mematikan larva yang ada di tanah.
  • Penggunaan atraktan/perangkap lalat buah jantan dengan senyawa Methyl Eugenol (ME) yang dikombinasikan dengan insektisida untuk menangkap lalat jantan sekaligus mengendalikan.
  • Pengendalian mekanis dengan tanah di bawah tajuk dan pengasapan secara berkala agar pupa tidak menjadi dewasa dan untuk mengusir lalat dewasa.
  • Pengendalian dengan pelepasan serangga mandul yang dihasilkan dengan teknik radiasi. Pengendalian ini masih merupakan pengendalian yang mahal.
  • Pengendalian biologi, yaitu dengan memanfaatkan parasitoid dan predator yang ada di alam seperti Biosteres sp., Opius sp., semut dan laba-laba

Pembuatan dan Pemasangan Perangkap
Cara yang cukup sederhana dan murah untuk membuat perangkap lalat buah adalah dengan menggunakan botol/wadah bekas air minum yang lehernya berbentuk kerucut. Bagian tabung yang berbentuk kerucut dipotong, kemudian dipasang kembali secara terbalik, bagian mulut tabung mengahdap ke dalam tabng kemudian bagian sambungan direkatkan dengan lem/selotip.
Atraktan/bahan perangkap dipasang pada medium kapas yang dipilin sampai sebesar ibu jari kemudian diikat dengan kawat kecil sedemikian rupa sehingga menggantung pada bagian tengah tabung perangkap. Bahan atraktan diteteskan pada kapas sampai basah namun tidak menetes, gantungkan perangkap pada cabang atau ranting tanaman dibagian tajuk pohon. Pemasangan perangkap dilakukan sejak buah pentil (umur 1.5 bulan) sampai buah panen dan pemberian antraktan diulang setiap satu bulan. Setiap satu hektar pertanaman dapat dipasang 15-25 perangkap.
Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika


Asap Cair Tempurung Kelapa Bisa untuk Biopestisida

Selama ini, masih banyak yang melihat tempurung kelapa sebagai limbah pengolahan buah kelapa. Umumnya pemanfaatan tempurung itu hanya sebagai bahan pembuatan arang. Menjawab tantangan untuk berinovasi, BPTP Riau memperkenalkan teknologi pembuatan asap cair dari tempurung kelapa.
Provinsi Riau, terutama Kabupaten Indragiri Hulu merupakan sentra perkebunan kelapa dengan total populasi pohon kelapa lebih dari 66 juta pohon. Potensi produksi tempurung kelapa dari sejumlah pohon tersebut melebihi 138.775 ton per satu kali periode panen. Dalam setahun, pohon kelapa dapat dipanen sebanyak 4 kali. Dengan demikian, total produksi tempurung dapat mencapai lebih dari 500 ribu ton tempurung dalam setahun. Oleh karena itulah, inovasi pembuatan asap cair dari BPTP Riau sangat bermanfaat untuk mengatasi melimpahnya limbah tempurung kelapa di Provinsi Riau.

Pada prinsipnya, teknologi pembuatan asap cair dari tempurung kelapa cukup sederhana, yaitu teknologi pirolisis (pembakaran untuk menghasilkan asap) dan teknologi kondensasi (pengembunan asap menjadi cair). Alat pembakarannya pun sangat mudah diperoleh karena dapat menggunakan drum bekas. Yang perlu diperhatikan adalah teknik untuk mempertahankan agar proses pembakaran tetap berlangsung hingga tempurung terbakar habis.
Setelah diperoleh asap cair dari dua teknologi tersebut, selanjutnya asap cair dimurnikan. Teknik pemurnian asap cair dilakukan dengan pengendapan dan penyulingan atau redestilasi. Dari dua teknik ini dapat dihasilkan asap cair murni grade 1 yang berwarna bening, rasa sedikit asam, dan aman sebagai zat tambahan untuk produk makanan.
Selain grade 1, teknik pemurnian juga menghasilkan asap cair grade 2 yang berwarna coklat terang, rasa dan aroma asam agak kuat, serta cocok sebagai bahan biopestisida. Sedangkan asap cair grade 3 yang dihasilkan berwarna hitam pekat, aroma asap kuat, agak lengket, dan cocok untuk dijadikan pengawet kayu.

Informasi lebih lanjut: BPTP Riau

Manfaat Lain Kulit Jeruk

Dalam kehidupan sehari-hari, buah jeruk umumnya hanya dimanfaatkan bagian daging buah untuk kepentingan konsumsi. Sementara kulit buahnya dibuang begitu saja, padahal kulit jeruk dapat diolah kembali menjadi minyak atsiri yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil olahan tumbuhan yang mempunyai nilai penting bagi kehidupan manusia, diantaranya untuk industri kosmetik, makanan olahan, kesehatan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Minyak atsiri jeruk memiliki karakter yang dibutuhkan untuk keperluan tersebut.
Macam minyak atsiri jeruk sebenarnya dibedakan berdasarkan asal variates jeruk yang digunakan.  Secara umum kulit semua  varietas jeruk bisa diambil/diekstrak minyak atsirinya, tetapi hanya bahan baku kulit beberapa varietas jeruk saja yang tersedia cukup banyak seperti jeruk manis, jeruk besar, jeruk siam, jeruk siam madu, jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk keprok.
Ekstraksi minyak atsiri dari kulit jeruk dapat dilakukan  dengan beberapa cara seperti pengepresan dingin, menggunakan bahan pelarut, maupun dengan distilasi. Prinsip dasar metode distilasi adalah uap dari air digunakan untuk mengangkat minyak atsiri dari dalam jaringan kulit jeruk dan kemudian didinginkan dengan air mengalir.
Hasil yang diperoleh adalah campuran air dan minyak yang karena perbedaan berat jenis akan terpisah dimana lapisan minyak ada di atas sedangkan lapisan air ada di bawah. Lapisan minyak kemudian diambil menggunakan pipet dan dimasukkan dalam botol berwarna gelap. Penyimpanan sebaiknya dilakukan di dalam lemari pendingin karena memiliki suhu rendah dan terhindar dari paparan sinar matahari.
Saat ini, pola perilaku konsumen banyak mengarah pada kesukaan terhadap produk yang berbau alami. Produk minyak atsiri jeruk baik yang digunakan untuk aroma terapi maupun pengharum ruangan.

Friday, August 28, 2015

Pengembangan Bioetanol dari Sagu

Bioetanol dapat dibuat dari tanaman yang mengandung komponen pati, salah satunya adalah sagu. Berdasarkan hasil penelitian, sagu memiliki kandungan pati cukup tinggi dibandingkan palma lain. Bioetanol dihasilkan melalui proses fermentasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis mikroorganisme dan substrat.

Secara umum, produksi bioetanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu persiapan bahan baku, fermentasi, dan pemurnian. Sebagai bahan baku bioetanol, pati sagu akan dihidrolisis sehingga menghasilkan hidrolisat pati yang merupakan cairan kental dengan komponen utamanya glukosa. Hidrolisis pati menjadi glukosa dapat dilakukan dengan bantuan asam atau enzim pada waktu, suhu dan pH tertentu. Hasil hidrolisis pati selanjutnya difermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dipakai dalam fermentasi etanol adalah khamirKhamir yang biasa digunakan untuk menghasilkan etanol adalah Saccharomyces cerviseae.

Thursday, August 27, 2015

Pupuk dan Permasalahannya

Pupuk kimia atau pupuk buatan memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi pertanian, sebagaimana tercermin dari peningkatan produksi padi selama ini. Tanpa penggunaan pupuk bersama-sama dengan varietas unggul padi yang memang responsif terhadap pemupukan, produksi padi tentu tidak dapat segera dipacu.

Selain pupuk tunggal seperti Urea, SP-36, dan ZA, pemerintah kini juga memberikan subsidi pupuk majemuk bagi petani, seperti NPK Ponska (15-15-15), NPK Pelangi (20-10-10), dan NPK Kujang (30-6-8). Harga setiap kilogram pupuk majemuk setelah disubsidi menjadi sama, Rp 2.300 per kg. Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam, harga pupuk di Indonesia lebih murah setelah disubsidi. Di Filipina, misalnya, harga pupuk Urea dan NPK 14-14-14 lebih mahal, yaitu 1.200 pesos atau Rp. 4.300 per kg. Oleh karena itu, keuntungan usahatani tanaman pangan yang diperoleh petani di Indonesia mestinya lebih tinggi dibandingkan dengan di negara tetangga.

Pupuk majemuk dibuat dengan dua cara yaitu melalui proses kimia dan blending (diaduk). Keuntungan melalui proses kimia, setiap butir pupuk mengandung unsur hara yang sama, sesuai dengan formulasinya. Sementara itu keuntungan dengan cara diaduk lebih mudah mengubah perbandingan kandungan hara N, P, dan K dalam pupuk, sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tetapi setiap butir pupuk hanya mengandung satu sumber pupuk dan bila diaduk menggunakan mesin pencampur sederhana, apalagi bila diameter dan bentuknya berbeda, maka butiran pupuk mudah pecah sehingga tidak seragam.

Perubahan bentuk pupuk dari bentuk tunggal menjadi bentuk majemuk menguntungkan dan memudahkan petani karena cukup satu kali mengaplikasikannya di lapangan, terutama untuk pupuk dasar, dibandingkan dengan pupuk tunggal yang harus membeli dan mengaplikasikan dua sampai tiga macam jenis pupuk. Selain itu, penggunaan pupuk majemuk membantu pemberian unsur hara lebih berimbang, terutama hara Kalium karena sudah tergabung dalam pupuk majemuk NPK, membatasi penggunaan pupuk Nitrogen secara berlebihan, karena biasanya petani tidak menyukai pemberian urea pada saat tanam. Ada kalanya pupuk majemuk juga mengandung hara S (belerang), sehingga penggunaan pupuk ZA yang mengandung hara S dapat dikurangi.

Kelemahan dari perubahan bentuk pupuk tunggal menjadi pupuk majemuk adalah harga per kilogram unsur hara jadi lebih mahal, dan petani lebih sulit menggunakan pupuk secara spesifik lokasi, karena kalau jerami atau sisa tanaman dikembalikan ke dalam tanah maka tanah tidak lagi memerlukan pupuk P dan K dengan takaran tinggi.

Kebutuhan dan efisiensi pemupukan ditentukan oleh tiga faktor yang saling berkaitan yaitu:
  • ketersediaan hara dalam tanah, termasuk pasokan dalam air irigasi dan sumber hara lainnya,
  • kebutuhan hara tanaman, dan
  • target hasil yang ingin dicapai. 
Oleh sebab itu rekomendasi pemupukan harus bersifat spesifik lokasi.

Permasalahan dan Saran Kebijakan
Komposisi pupuk majemuk di Indonesia belum mempertimbangkan ketersediaan hara dalam tanah, termasuk pasokan air irigasi dan sumber hara lainnya. Di wilayah dengan ketersediaan hara P dan/atau K yang tinggi seperti umumnya di lahan sawah di Jawa dan Bali, petani tidak efisien menggunakan pupuk majemuk dengan kandungan P dan K yang tinggi. Sebaliknya, kandungan N yang tinggi dapat menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Kurang tersedia dan mahalnya pupuk Kalium (K) dan Fosfor (P) dalam bentuk pupuk tunggal seperti KCL dan SP-36 karena harus diimpor, sehingga petani mengalami kesulitan dalam pengaturan kebutuhan pupuk spesifik lokasi, terutama untuk tanaman padi sawah. Pemecahannya adalah pabrik-pabrik pupuk, baik BUMN maupun pengusaha lokal, dapat membuat paling tidak dua komposisi pupuk majemuk. Pertama, memproduksi pupuk dengan kandungan hara N seperti pada Ponska tapi kandungan P-nya relatif rendah dan kandungan K-nya relatif tinggi. Kedua, memproduksi pupuk dengan kandungan hara N seperti juga pada Ponska tapi kandungan P-nya relatif tinggi dan kandungan K-nya relatif rendah (sebagai pemeliharaan), sehingga tidak terjadi penambangan hara P dan K secara berlebihan di tanah. Sebagai contoh, di Filipina terdapat formula pupuk majemuk NPK 14-14-14, NPK 17-0-17, dan NPK 16-20-0.

Komposisi kandungan hara dalam pupuk majemuk NPK Ponska lebih sesuai untuk tanaman padi sawah. Di Indonesia, lahan sawah dengan kandungan hara P dan K sedang sampai tinggi cukup luas, sehingga pupuk NPK Ponska akan lebih efisien diberikan sebagai pupuk dasar, dan kekurangan hara N pada stadia anakan aktif (pupuk susulan I), dan stadia awal berbunga (pupuk susulan II) dapat diberikan dalam bentuk pupuk Urea.

Kelemahannya, pilihan ini tidak memberikan insentif bagi petani yang panen menggunakan mesin atau pedal tresher (jerami potong atas, 50 cm dari pangkal batang, dan tingkat kehilangan hasil gabah lebih rendah, serta petani yang mengembalikan jerami dalam bentuk kompos atau dibenamkan pada saat pengolahan tanah. Jerami padi mengandung hara Si dan K yang tinggi, sehingga sistem panen menggunakan tresher akan meningkatkan ketersediaan hara Si dan K di tanah. Konsentrasi Si dalam jerami berkisar antara 7-10 persen. Pengunaan pupuk organik dari kompos jerami sebanyak 2 ton per Ha per musim tanam dapat menyumbang hara K setara 50 kg KCL per ha per musim.

Panen dengan tresher akan meningkatkan porsi hara K dan Si yang dapat dikembalikan ke tanah, sehingga menghemat penggunaan pupuk K dan tidak diperlukan penambahan pupuk Si. Peningkatan kandungan K dan Si di tanah akan membuat batang tanaman menjadi lebih kuat dan kekar, sehingga lebih tahan terhadap serangan hama penggerek batang, wereng coklat, dan tanaman menjadi tidak mudah rebah sehingga potensi hasil gabah yang tinggi dapat dicapai.

Walaupun harga pupuk UreaZASP-36, dan pupuk majemuk telah dinaikkan sejak 1 April 2010 ternyata masih membebani APBN karena masih besarnya subsidi yang diperlukan. Untuk itu, kebijakan tidak membakar jerami setelah panen dan mengembalikannya dalam bentuk kompos atau pupuk organik perlu dilakukan secara terus-menerus, karena akan menghemat penggunaan pupuk kimia, yang akhirnya akan menghemat subsidi pupuk.

Petani juga memerlukan penyuluhan dan pemahaman bahwa penggunaan pupuk yang efisien (tepat takaran, tepat sumber, tepat cara, dan tepat waktu aplikasi) sangat menentukan jumlah pupuk yang harus diberikan dan target hasil gabah yang dapat dicapai. Dengan teknologi pemupukan hara spesifik lokasi (PHSL), penggunaan pupuk oleh petani diharapkan dapat lebih rasional sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sekaligus meningkatkan produksi dan pendapatan petani.

sumber: Prof. Dr Zulkifli Zaini (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan) 

Sunday, August 2, 2015

Tips Budidaya Bawang Merah


Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk famili Liliaceae, merupakan sayuran semusim, berumur pendek, serta diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi, maupun generatif dengan biji (TSS=True Shallot Seed).
Tanaman bawang merah cocok tumbuh di dataran rendah sampai tinggi  (0–1000 m dpl), dengan ketinggian optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0–450 m dpl. Tanaman ini peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi serta cuaca berkabut, juga memerlukan penyinaran cahaya matahari maksimal (minimal 70% penyinaran) dengan suhu udara 25-32oC, dan kelembaban nisbi 50-70%.
Tanah yang diperlukan untuk tanaman bawang merah adalah yang berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, drainase dan aerasi yang baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan pH tanah netral (5,6– 6,5). Tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau Latosol. Tanah lembab dengan air yang tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang merah. Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang cukup, yaitu pada bulan April/Mei setelah  padi dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman bawang merah di musim kemarau biasanya dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di musim hujan dilakukan pada lahan tegalan. Bawang merah dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman cabai merah.

Dalam budidaya tanaman bawang merah, perlu diperhatikan beberapa hal seperti benih yang digunakan, persiapan lahan, cara tanam dan pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme penganggu tumbuhan, serta panen dan pascapanen.

sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura