Merahkan Rabumu!

Ayo Merahkan Rabumu!

Ayo donorkan darahmu!

Ayo Donor Darah 8 November 2017 dan Donasi Buku 3-22 November 2017

Selamat Hari Raya Idul Adha

Himagrotek mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Adha!

Ayo ikutan agrocomunity!

Bisa lebih tau tentang peminatan loh..

Selamat Hari Batik Nasional!

Himagrotek mengucapkan selamat hari Batik Nasional, Bangga menggunakan Batik!

Selamat Tahun Baru Hijriah!

Himagrotek mengucapkan selamat Tahun Baru Hijriah!

Selamat Hari Tani 2017!

Terima Kasih Atas Pengorbananmu Selama ini!

Sunday, June 26, 2016

Panitia Makrab Bibit 9 ODT 2016

Sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman Agrotekers yang bersedia mengikuti semua tahap yang ada. Selamat kepada teman-teman semua yang diterima menjadi Panitia Makrab Bibit 9 ODT 2016. Dan untuk teman-teman yang tidak diterima jangan patah semangat karena masih ada kesempatan dalam kepanitian lain yang menanti. Untuk teman-teman yang terpilih untuk dapat mengadiri Temu Perdana Panitia Makrab Bibit 9 ODT 2016 pada hari Senin, 27 Juni 2016 pukul 15.30 bertempat di Parkiran Gd. C. Semangat.... #HimagrotekSelaludiHati

Panitia Makrab Bibit 9 ODT 2016 klik disini.

Tuesday, May 31, 2016

Panitia Munas Formatani 2017

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah melakukan tahap seleksi Panitia Munas Formatani 2017. Selamat kepada nama-nama berikut yang kami lampirkan telah diterima menjadi Panitia Munas Formatani 2017. Untuk teman-teman agrotekers yang belum diterima jangan bersedih hati karena masih ada kepanitian besar lain menunggumu. #Formatani #SalamSatuCinta #HimagrotekSelaludiHati

Pengumuman Panitia Munas Formatani 2017 bisa dibuka disini

Informasi selanjutnya akan segera kami update atau bisa menghubungi akun Official Himagrotek.

Thursday, March 3, 2016

Usahatani Bawang Merah dan Cabai Merah dengan Inovasi Pertanian

Perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan merupakan persoalan yang terkait erat satu sama lainnya. Perubahan iklim dan keanekaragaman hayati adalah dua hal yang jika tidak ditangani secara terintegrasi akan berpengaruh terhadap usahatani dan keamanan pangan.
Solusi untuk menjawab tiga isu tersebut yakni dengan penerapan inovasi teknologi. Menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu, petani Indonesia harus menggunakan teknologi tanam, dengan menggunakan pupuk berimbang, pemilihan varietas yang adaptif, dan kalender tanam.
Usahatani sayuran khususnya bawang merah dan cabai merah memiliki resiko tinggi dan kendala yang dihadapi dalam budidaya, seperti serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) yang dapat menggagalkan panen. Produktivitas tanaman yang rendah dan serangan hama/penyakit umumnya makin meningkat pada pertanaman di luar musim atau waktu off-season, yaitu mulai bulan Desember sampai bulan April dalam kondisi iklim normal.

Keberhasilan usahatani bawang merah dan cabai merah di musim hujan, ditentukan oleh kemampuan budidaya khususnya dalam mengatasi masalah hama/penyakit tanaman, pemilihan varietas, pengolahan lahan yang tepat dan pemupukan tanaman yang efisien.
Pengenalan sifat bawang merah dan cabai dari suatu varietas, khususnya kepekaan terhadap hama dan/atau penyakit, memudahkan dalam pemilihan varietas yang akan ditanam. Pemilihan varietas tamanan bawang merah dan cabai merah adaptif menjadi faktor keberhasilan usahatani sayuran.
Varietas bawang merah Sembrani dengan umur panen normal di dataran rendah 54-56 hari dan di dataran tinggi 68-75 hari, potensi hasil 9,0-24,0 t/ha dengan keunggulan tahan simpan sampai 4 bulan. Selain itu varietas bawang merah Trisula dengan umur panen normal 55 hari, potensi hasil 6,50-23,21 t/ha dengan keunggulan tahan simpan samapi 5 bulan.
Untuk pemilihan varietas cabai merah yaitu cabai merah Kencana dengan umur panen 95-98 hari setelah tanam, potensi hasil 18-19 t/ha, dan beradaptasi baik pada dataran rendah sampai dengan tinggi.
Informasi lebih lanjut :

Perangkap Likat Kuning untuk PHT

Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian yang dilakukan untuk menekan penggunaan pestisida sintetik di pertanaman. Pengendalian hama terpadu (PHT) dilakukan secara fisik, mekanik, pergiliran dan rotasi tanaman lebih bersifat ramah lingkungan.
Pemantauan hama di pertanaman penting dilakukan untuk menentukan upaya preventif pengendalian hama, antara lain dengan menggunakan perangkap likat kuning (yellow sticky trap).
Serangga umumnya tertarik dengan cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu, dimana warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti warna kuning cerah. Inilah yang menjadi dasar dibuatnya perangkap dengan menggunakan plastik/kertas berwarna kuning yang dilapisi dengan perekat agar hama tidak bisa terbang dan mati.

Pemasangan perangkap ini dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang ada di lahan. Aplikasi perangkap ini sebanyak 40 lembar per hektar, dengan ketinggian sesuai tanaman. Misalnya pada tanaman kedelai, ketinggian lokasi perangkap sekitar 100 cm agar perangkap dapat bekerja secara optimal.
Ketika hama terperangkap telah memenuhi sebagian besar permukaan perangkap atau 15 hari setelah pemasangan, maka perlu dilakukan penggantian dengan perangkap yang baru.
Perangkap likat kuning mampu mengendalikan beberapa hama yang sering muncul di pertanaman, seperti lalat buah, wereng, aphids, thrips, kutu, ngengat, dan kepik. Perangkap likat kuning ini dapat dijadikan solusi untuk petani dalam pengendalian hama di lapangan.
Pemanfaatan perangkap ini dapat menjadi indikator populasi hama di area pertanaman, sehingga saat ditemukan hama tertentu yang populasinya telah melebihi ambang batas maka dapat segera dilakukan pengendalian hama tersebut secara khusus. Dengan perangkap likat kuning, produktivitas tanaman meningkat dan biaya pestisida sintetik dapat ditekan.

Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Lingkungan Pertanian